Tanpa Kamu

Aku tanpamu (i)

aku tanpa mu ibarat orang gila sasau cakap sensorang, ketawa sensorang, mengekeh sensorang, marah sensorang, meroyan sensorang.. ya, aku tanpamu memang layaknya seperti orang skizo punya teman rekaan hayalan yang sepenuhnya realiti bagi mereka. aku tanpamu ibarat beruk bisa ngomong, ibarat ikan berbicara cinta, laksana bulan muncul ditengahari, bak mentari ditelan lautan…. aku tanpamu henpon.. apa bisa aku berjustifikasi akan teruknya tingkah ku semenjak kemarin sudah..

————————————————————

Aku tanpamu (ii)

sepi hati terjadi lagi.. mungkin sampai mati.. aku sepi. biar senyum hadir di hariku.. namun ini hanya dibibir.. dibibir saja…. aku ini.. yang bisa mengerti.. walaupun yang lain.. mau mengerti.. namun berat beban dihidupku.. biarkan saja.. biar saja hanya ku yang tahu.. huuu.. sejarah cinta danhidupku penuh duri dan banyak ranjau untuk kesabaran yang perlu, untuk tetap ku berdiri, ada saatnya ku bicara bila hati tlah pulang.. spanjang ku bisa atasi semua.. aku tetap diam.

—————————————————

kamu: “Kalau bolehku berikan bulan… kalau bisa ku tatangkan lautan penuh.. untukmu”

Saya: “kesakitan apa yang bisa kamu berikan pada saya?”

Kamu: “Cinta sebesar zarah”

kalauhidup aku tinggal6 bulan vs kalau umur aku 1000 tahun…

lau hidup tinggal 6 bulan

1. gunakan sumer duit yang ada/tinggal untuk melihat dunia ciptaan tuhan..melangkah setapak demi setapak mngharap boleh jadi satu ibadat dan menghaps dosa yang macam tak sempat nak repent..

2. menghadap..mencarik..menggunakan segala kudrayt yang carik org2 yang aku nak carik semenjak dulu kala lagi… carik kenangan yang dah mati.. carik kenangan yang masih beraki baki.. cari orang2 ang sedang mencipta kenangn ngan aku sebab aku akan jadik sejarah..

3. meminimumkan tidur seminimum boleh… ( kekususutan ansur pulang bersama bayang siang semalam.. baru ku t ahu ertinya sakit yang mencengkam dada.. malam yang sesepi itu.. pembuka jalan selebar dunia..) may i know how to appreciate this..

4. mati…

lau hidup 1000 tahun lagi

1. keje keje keje keje kumpul duit dan buat plan yang macam2 termasuk plan2 untuk menghancurkan yahudi! ha3!

2. bersenang lenang… rilek2 tak ingat dunia akan hancur jua hendaknya

3. 1000 tahun takkan mungkin bisa menghuraikan semua cinta yang kau beri.. untuk diriku yang pilu..

ArtiCinta (Wallahu a’lam) dan kisah seorang pemuda yang memohon kecintaan sebesar zarah

Bukti kecintaan: Ayat 31-32 Surah Ali Imran

Sumber: http://kongaji.tripod.com/myfile/Ali_Imran_ayat_31_32.htm

Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang;

(31) Katakanlah, jika memang kamu cinta kepada Allah, maka turutkanlah aku, niscayacinta pula Allah kepada kamu dan akan diampuniNYA dosa-dosa kamu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

(32) Katakanlah: Hendaklah kamu taat kepada Allah dan Rasul. Tetapi jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang kafir.

Disuruhlah kita selalu membaca al-Qur’an dengan sebenar-­benar baca, artinya dengan menjurus kan fikiran kepadanya. Dengan demikian kelak terasa hubungan di antara satu ayat dengan ayat yang menyambutnya. Ujung ayat 30 di atas menyatakan bahwa Tuhan Allah itu amat sayang, amat kasih kepada hamba-­hambaNya. Sehingga orang yang pernah bersalah diberi kesempatan mengikuti amalan yang jahat dengan banyak-banyak berbuat baik disertai memohon ampun. Tuhan selalu bersedia menerima kedatangan hambaNya yang demikian.

Apa kesan yang terasa dalam hati yang beriman bila membaca sampai di sini? Ialah cinta, kasih-sayang Tuhan kepada hambaNya. Maka dengan sendirinyapun, dalam perasaan si hamba terasalah pula keinginan membalas cinta itu. Bertepuk tidak sebelah tangan hendaknya. Dalam suasana rasa yang demikian datanglah ayat lanjutan ini:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُوني‏ يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَ يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَ اللهُ غَفُورٌ رَحيمٌ
“katakanlah: Jika memang kamu cinta kepada Allah, maka turutkanlah aku, niscaya cinta pula Allah kepada kamu dan akan diampuni Nya dosa-dosa kamu. Dan Al­lah adalah Maha pengampun lagi Penyayang.”
(ayat 31).

Maka perasaan yang tadinya masih terasa samar-samar, laksana masih mencari-sari di antara si hamba dengan Tuhannya, sekarang rahasia itu telah terbuka. Mari kita uraikan ! .
“Engkau telah mengatakan dalam ujung kataMu bahwa Engkau tetap belas-kasihan kepada aku, hambaMu yang lemah ini, ya Tuhanku ! Sebenarnya aku sendiripun begitu kepada Engkau.Aku cinta kepada Engkau ! Engkau berikan kepadaku suatu perasaan yang halus, suatu ‘iffah atau wijdan. Terasa dalam hati kecilku bahwa tidak pernah aku lepas dari tilikanMu, selalu aku Engkau bimbing, banyak nikmatMu kepadaku. Aku selalu hanya menerima saja, aku tidak dapat memberi kepadaMu.

Bagaimana aku akan dapat memberi sedang nyawakupun, nyawa yang sedekat-­dekatnya kepadaku, Engkau yang punya. lantaran ituah maka kasih cintaku kepada Engkau tumbuh dengan mesranya. Aku takut kepada Engkau karena Engkau. Hanya dengan sebuah tempurung aku menerima nikmatMu yang seluas lautan. Tetapi sungguhpun aku takut, akupun rindu kepada Engkau. Aku cemas, tetapi di dalam cemasku itu akupun mempunyai penuh harapan.

Tuhanku ! Engkau ada ! Sungguh Engkau ada ! Hatiku merasainya. Aku ingin sekali berjumpa dengan engkau, tetapi aku tidak tahu ke mana jalan. Dan aku Engkau takdirkan jadi manusia. Aku sendiri tahu kelemahan dan kekuranganku. Sebab itu kadang-kadang terasa malu aku akan melihat Engkau, tetapi aku hendak melihat juga. Tuhanku, tolong aku, tolong aku. Tolong aku dalam penyelesaian soalku ini.”

Di sinilah datang jawaban Tuhan, dirumuskan oleh ayat ini. Jika sungguh-sungguh engkau cinta kepadaKu, maka jalan buat menemuiKu mudah saja. Memang Aku Maha Mengetahui, bahwa banyak hambaKu yang seperti engkau, ingin menemuiKu, ingin bersimpuh di hadapanKu, hatinya penuh dengan ingat kepadaKu. Sebelum engkau Aku adakanpun telah Kuketahui keinginan, kerinduan, dan kecintaan itu. Untuk itulah aku utus RasulKu kepadamu; dialah petunjuk jalan menuju aku itu. “Hai utusanKu! Sampaikanlah pesanKu itu kepada seluruh hambaKu yang rindu, asyik dan cinta kepadaKu itu. Bentuklah sebuah rombongan itu; zumaran, berbondong-bondong. Tiap-tiap rombongan di bawah pimpinan engkau, wahai utusanku! Katakanlah kepada mereka wahai rasulKu, cinta mereka Aku balas, bertepuk tidak sebelah tangan. Tadi mereka menyebut bahwa mereka sebagai manusia. pernah bersalah. Aku tahu itu, Aku lebih tahu. Sebab Aku yang mengetahui asal kejadian. Maka apabila rombongan itu telah terbentuk, dan mereka telah berkumpul di dalamnya, dan engkau sendiri yang memimpin, tandanya mereka telah benar-benar telah berjalan menuju Aku. Aku ampuni dosa mereka. Aku mempunyai pula suatu nama yang menunjukkan sifatKu yaitu tawwab, artinya memberi taubat, menerima hambaKu yang kembali. Akupun mempunyai suatu nama menunjukkan sifatKu, yaitu ghafur, pemberi ampun. Akupun rahim, amat penyayang. Bagaimana akan kamu ketahui kebesaran Asma’Ku itu, kalau yang bersalah di antara kamu memohon ampun tidak Aku ampuni?”

Ingatlah kembali salah satu sebab turunnya ayat ini, yaitu utusan dan rombongan Nasrani 60 orang dengan 14 orang terkemuka sedang berada di Madinah.

Nabi Musa yang besar telah mengajarkan kepada Bani Israil suatu ajaran yang berintisari pengorbanan. Sifatnya ialah jalal, kemuliaan. Nabi Isa Almasih yang agung telah membawa lanjutan ajaran yang berdasar hubb, artinya cinta. Sifatnya ialah jamal, keindahan. Sekarangdatang Nabi Muhammad saw. menyempur­nakan penyerahan diri kepada Tuhan itu, Islam. Sifatnya ialah kamal, kesempurnaan. Nyatalah ayat-ayat ini meninggalkan kesan yang mendalam juga pada anggota-anggota utusan Nasrani itu; Muhammad s.a.w, pun membicarakan dari hat cinta.

Memang cintalah pintu pengajian itu, yang selalu dibuka dengan ucapan:

 

“Dengan nama Allah Yang Maha Murah, lagi Penyayang.”
Tetapi cinta dalam ucapan sajapun tidaklah cukup. Bahkan cinta hati tidak diikuti pengorbanan tidaklah cukup. Menyatakan cinta, padahal kehendak hati yang dicintai tidak diikuti, adalah cinta palsu. Allah tidak menyukai kepalsuan.Kamu durhakai Allah, padahal kamu menyatakan cinta kepadaNya. Ini adalah mustahil dalam kejadian, dan ini adalah ganjil Jika memang cintamu itu cinta sejati, niscaya kamu taat kepadaNya. Sebab orang yang bercinta, terhadap yang dicintainya, selalu patuh.

Oleh sebab itu datanglah sambungan ayat:

 

قُلْ أَطيعُوا اللهَ وَ الرَّسُولَ
“Katakanlah: hendaklah kamu taat kepada Allah dan Rasul”
(pangkal ayat 32).Taatlah kepada Allah dan ikuti jejak rasul, niscaya kamu akan yakin bahwa bimbingannya tidak akan membawamu kepada kecelakaan. Apabila kamu telah cinta kepada sesuatu, tentu keinginan kamu adalah keinginan dia. Apatah lagi cinta kepada Allah. Kalau kamu telah cinta kepada Allah, niscaya fanalah kesukaan dirimu sendiri, lebur ke dalam kesukaan Allah. Niscaya bertaubat kamu, hanya Satu Dia saja ingatanmu. Tidak berbelah­ bagi. Kalau terbelah sedikit saja, niscaya terbelah pula ketaatanmu, palsulah cintamu. Taat kepada rasul adalah akibat taat kepada Allah, sebab Rasul itu diutus buat “menjemput kamu dan menunjukkan jalan serta memimpin perjalanan itu sekali.

 

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللهَ لا يُحِبُّ الْكافِرينَ
” Tetapi jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang kafir ”
(ujung ayat 32).Maka adalah orang-orang yang terpacul, tercampak ke luar dari rombongan. Ada yang mengaku cinta kepada Allah, tetapi bukan bimbingan Muhammad yang hendak diturutinya, diapun tersingkir ke tepi. Dia maghdhub, dimurkai Tuhan.Ada yang mencoba-coba membuat rencana sendiri, memandai-mandai, maka diapun terlempar keluar, dia dhallin, diapun tersesat.Ada yang tidak sabar, lantas tercecer di tengah jalan. Ada yang terpesona oleh beberapa hal yang disangka indah, sehingga dia lupa bahwa yang akan dituju ialah yang sebenar-benar indah.

Orang-orang yang semuanya telah kafir, artinya tidak percaya lagi kepada bimbingan Tuhan; niscaya Tuhan tidak bisa mencintai mereka. Sebab itu maka cinta yang sejati ialah penyerahan diri bulat-bulat, bukan sayang yang terbagi-bagi.

Dan mesti sabar menerima apa yang ditimpakan kekasih. Sehingga kalau ada orang yang mengatakan kepada kekasihnya: ” walaupun ke lautan api beta ini tuan bawa, beta akan mengikutinya juga.” Ucapan yang demikian hanya layak kepada Tuhan, dan Tuhan tidak akan membawa kecintaanNya ke lautan api, melainkan ke dalam syurga.

Ayat-ayat inipun masih berhubungan rapat dengan ayat yang diatasnya, tadi dilarang orang yang beriman menghubungkan wilayah dengan orang kafir, jangan mengangkat mereka jadi pelindung atau jadi pemerintahan. Kecuali kalau hendak menjaga dan memelihara supaya jangan datang dari mereka apa yang ditakuti. Kemudian datang ayat ini, mengatakan bahwa cinta sejati hanya kepada Allah dengan mengikuti Nabi saw. sudah itu datang ayat yang lebih tegas menyuruh taat kepada Allah dan Rasul. Maka kalau kita renungkan pertalian ayat ini satu dengan yang lain, nampaklah bahwa pokoknya orang yang beriman tidak boleh berwilayah kepada orang yang kafir, kecuali kalau sudah sangat terpaksa. Tetapi orang-orang yang imannya sudah sangat mendalam dan cintanya yang pertama dan utama, yaitu Allah.

 

——————————

Seorang pemuda yang meminta kepada nabi Isa supaya berdoa pada Allah diberikan rasa cinta padaNya sebesar satu zarah. nabi Isa menjawab ” engkau takkan mampu menanggungnya walaupun sekadar satu zarah “. Tapi pemuda itu meminta didoakan memiliki rasa cinta pada Allah sekadar setengah zarah. Maka nabi Isa pun berdoa dan Allah perkenankannya. Bila nabi mencari pemuda berkenaan, di dapati dia berada di atas gunung, jauh dari orang ramai. Dia cuma memandang ke langit dan tidak menjawab salam yang diberikan oleh nabi. Maka Allah mewahyukan kepada nabi Isa ” Bagaimana pemuda itu dapat mendengar percakapan manusia, sedangkan di dalam hatinya terdapat setengah zarah rasa cinta padaKu. demi kekuasaanKu, jika kau potongnya menjadi dua, dia pasti tidak merasai kesakitannya “

kalau boleh ku berikan bulan .. andai bisa ku tatangkan lautan penuh.. untukmu..

saya sudah mula tidak betah tanpa kehadiran kamu walau sesaat dalam hayunan langkah saya yang tertatih-tatih di dunia baru yang saya titi kini .. kamu yang menghadirkan diri tanpa jasad yang bisa saya tatap, kamu yang mengucapkan bait-bait indah yang membuat hati saya bungkam dalam senyum dan tegar terus menahan kebungkaman itu agar bisa larut dalam lewat mimpi dan segarnya pagi yang menggigit segala sendi.. sungguh saya tahu hari saya akan dipenuhi tawa dan canda yang membuai keegoaan sukma agar terus dibuai mimpi dan bergantikan kepada kepasrahan dan kebergantungan saya kepada-Nya.

Sungguh, jika kamu adalah yang dipesankan kepada saya demi kepasrahan dan kebergantungan yang ingin saya punyai dalam sanubari yang sedang saya pohon untuk memiliknya dan bertatih dalam mennyemai kecintaan dunia yang membawa kebahagiaan akhirati… saya mula percaya semula akan keagungan cinta, akan keabadiannya dan kehebatannya.  Bagaimana dengan cinta kita andai engkau memilih perpisahan.. itu yang kamu tanyai saya. sungguh andai perpisahan itu yang terbaik maka saya akan mengenang cinta ini, kasih sayang ini dan kebahagiaan ini dalam kerinduan yang tak mungkin saya buang. jika kamu meminta saya untuk tidak mensia-saiakan segala pengorbanan, kesediaan yang sedang kamu pertaruhkan, sedang kamu mencongak akan apa yang berada di hadapan… apa bisa saya berjanji melainkan dengan izin-Nya dan saya membutuh sekali agar semua ini bukan hanya untuk menjadi kesia-siaan…

Sungguh, apa bisa kamu memberi kepastian andai bukan dengan izin-Nya. Pohonan saya pada-Nya tidak pernah putus sayang…

saya mohon maaf untuk berkata ini demi kesekian kalinya…Sungguh andai perpisahan adalah takdir yang tidak bisa saya larikan diri darinya.. kesakitan  apa yang bisa kamu berikan kepada saya.. kerana kepasrahan dan kebergantungan saya adalah pada-NYA.

Akoo masih kat kampung tercinta..

dah lebeh sebulan akoo kat kampung..belum melucutkan lagi title pengusaha anggur yang aku terjuni baru2 ini.. sebulan lebeh nie.. tak pernah sehari pun aku buhsan. selain adanya Irfan dan kisah hidupnya yang agak tragis walaupun baru berusia 3 bulan, dan aku sebagai makcik tuanya yang menumpang sekaki kepada kegembiraan lahirnya dia di atas bumi Illahi ini, selain daripada saket pening akoo yang mengalahkan pompuan beranak.. selain daripada bulan puasa dan musim raya yang menggembirakan seluruh umat Islam seantero alam… aku rasa dunia akoo cukup. kecukupan yang macam mana aku tak tau nak explain sebab aku sungguh compangcamping dalam serba serbi.

cakap lerrr apa yang tak compangnyerr apa yang tak campingnyerr…hahahaha! takkan lerr aku nak bukak pekung sndiri tapi above all… aku hepi.

untuk sejenak dan seketika ini… aku rasa aku memiliki apa yang aku cari-cari selama ini… sayang, ikhlas dan kawan dan cinta. besar maknanya bagi yang cuba mencari dan memberi makna kepadanya sebaek mungkin… kalau putaran roda tu kat atas… walaupun zahirnya… manusia sejagat yang datang beraya kat rumah mengajukan soalan2 ibarat lawyer soal saksi masa cross exam.. aku berjaya menepis soalan2 itu dengan loyar buruk akoo yang dah semekin teruk tahap gaban… tapi akoo tak kan mampu kalau tak mampu…tanpanya.. yang memberi alasan kepada setiap suatu yang aku cari dan of course… tanpa-Nya.. akoo tak mungkin bergelk ketawa dengan irigan hati yang tergelak atau aku bertahan diam dengan irigan hati yang tenang… sungguh… berdekah2nya aku mewar2kan kegembiran akoo dalam kecompangancampungan akoo ini… akoo tak kira!! wawawawawa….

Dari2oo5 HIngGa KelMaRin

Aku baca semua post aku dari 2oo5 sampai kelmarin… aku dah taksama. gaya bahasa. penceritaan.. terutama dari bulan May 2009 sampai kelmarin. ada masa aku tak mampu mengeluarkan perkataan2 aku sendiri lalu menceduk bulat2 artikel yang amat dekat dengan diri aku time tuh… lately aku dah jumpa perkataan-perkataan itu semula. jauh beza dari dua tahun sudah. atau beberapa bulan sudah…

————————————————————–

Berikut adalah cerpen karangan saya yang ke tiga dan macam selalu spt dua yang lepas.. tak siap lg sebenarnya.. he3

 

Ini adalah kisah tentang saya yang tak lengkap. Yang secebis. Ini adalah kisah tentang secebis kehidupan daripada banyaknya kehidupan di duniawi ini. Seorang teman berhajat memberikan hadiah peta Malaysia kepada saya tatkala saya bergurau dengannya tentang banyaknya masalah yang perlu saya hadapi jika saya bersetuju dengan persoalannya. Soalan yang beribu-ribu darinya. Saya senang sekali berhadapan dengan soalan demi soalan darinya. Saya kira dia sememangnya berusaha menceriakan dunia saya. Seceria pelangi petang. Saya akui adakalanya gurauannya memang mengusik hati tapi manakan mungkin. Gurauan tetap gurauan. Terkadang saya agak gundah mengenangkan adakah bisa pelangi petang ini bertahan lama lalu cahaya-cahayanya bertebaran melingkari hidup saya dan menemani saya hingga akhir nafas atau adakah akan sebagaimana wajarnya hukum alam ini, hilang lalu berganti malam yang pekat gelap. Saya sedar kebimbangan saya ini tidak punya asasnya.

 

Maaf saya perlu melaritkan di sini beberapa bait lagu yang dinyanyikan oleh lagenda kita Allahyarham Sudirman Hj Arshad seperti berikut:

 

”Ku meniti awan yang kelabu, ku tempuhi lorong yang berliku, mencari sinar yang menerangi kegelapanku… ku percaya pasti suatu masa sang suriakan menyinar jua membawa harapan yang menggunung bersamanya. Engkau tiba bagaikan pelangi, tak bercahaya namun kau berseri, tapi cukup menghiburkan hati ini. Seharian waktu bersamamu, tak terasa saat yang berlalu… bagai pelangi petang kau kan pasti pergi jua”

 

”Lupakah engkau tentang peta Malaysia yang aku cerita dulu?” Manakan lupa. Peta Malaysia yang mewakili kehidupan penduduk Malaysia. Bayangkanlah, ada berpuluh juta rakyat Malaysia, masalah mereka lebih besar dan lebih rumit. Benar sekali, tidak di ambil kira penduduk Indonesia yang banyaknya melebihi sepuluh kali ganda rakyat Malaysia sendiri. Saya ketawa sendiri tapi sebenarnya saya insaf sungguh. Kegalauan apalah yang saya hadapi berbanding berjuta yang lain. Kemiskinan, kebuluran, kesengsaraan akibat bencana alam, perpisahan kematian, penderaan dan bermacam lagi. Saya tersenyum sendirian semalam bilamananya saya terlihat peta Malaysia tiap kali saya memasuki gedung-gedung buku. Gurauan-gurauan yang semata-mata gurauan sedang saya meletakkan makna atas segalanya.

 

Kelmarin dia bercerita tentang Bani Israel dan asal usulnya. Terima kasih tak terhingga. Benarlah beramal tanpa ilmu itu rugi. Saya berusaha memahami surah tentang nabi-nabi, cuba mengambil hikmah dan takjubnya kisah-kisah yang dikisahkan dalam Al-Quran itu tanpa pengetahuan lengkap. Sungguh dangkal saya ini dan akhirnya saya termangu-mangu sendiri.

 

            Kaum manakah yang telah diberi nikmat makanan dari syurga manna dan salwa, dua belas mata air yang keluar dari perut bumi sebaik sahaja hentakan tongkat Nabi Musa, awan yang menaungi sepanjang perjalanan panas dan dijanjikan kitab panduan kalau bukan Yahudi. Kaum itulah dengan sedemikian kali nikmat yang diberikan, tetap juga kufur dan keingkaran demi keingkaran dilakukan. Kaum manakah yang menyembah lembu akibat fitnah Samiri, sedang Nabi Musa hanya pergi selama empat puluh hari, kaum manakah yang ditimpa sumpah menjadi kera dan kaum manakah juga yang meminta Nabi Musa untuk diciptakan berhala sedang kemenangan menentang Firaun baru sahaja dikecapi. Tentu sahaja Yahudi.

 

Tidak perlulah bukti nyata Palestine dan Baitul Maqdis yang diceroboh tanpa daulat. Penindasan etnik dan pembunuhan tanpa henti untuk kita membenci Israel dan Yahudi ini. Semenjak dahulu lagi, azalinya, Al-Quran telah dengan nyata mengecam mereka.

 

”Kau tak apa-apa?” tanyanya lewat perkhidmatan pesanan ringkas apabila saya berhenti kerja serta merta minggu sudah. Saya memberi jawapan yang panjang lebar sedang dia tidak langsung dapat melihat riak wajah saya sebenar. Sungguh, riak wajah saya adalah seperti yang saya beritahu. Saya tak mahu lagi memendam rasa. Jika saya kecewa tentunya saya berharap dia memahami. Adakah boleh dikira masalah jika hati saya setenang tali air buatan manusia di hadapan rumah ibunda dan ayahanda di kampung. Tidak mengalir deras menuju muaranya yang berpasir selut terpaksa dikumbah saban tahun agar melebar bukan mengecil laluannya.

 

Emak dan abah. Saya selalu dilingkari dengan rasa terkilan dan menyesal. Anak apalah saya ini. Tika saya memutuskan untuk menghadapi kenyataan peribadi, bukan soal rezeki tadi. Saya mencari-cari kepastian dari raut wajah mereka berdua. Wajah yang menggambarkan usia. Garisan lekuk yang melingkari kulit atau mudahnya kedutan-kedutan yang eloknya dibiarkan begitu. Jangan sesekali disuntik dengan cecair penegang yang memelikkan raut lagi artis-artis tua kita. Tidak termasuk Sarimah biduanita yang mengakui basuhan air sembahyang yang menyegarkan itu mungkin membuatkan wajahnya terus berseri. Ah! Biduanita itu memang cantik asli.

 

Cerita saya hanya secebis. Bila ada yang bertanya ”Engkau bagaimana? perpisahan itu bagaimana?”. Saya tidak pernah betah untuk menjawap tentang diri sendiri melainkan emak yang perlu saya pedulikan. Saya beritahu mereka, saya risaukan emak.. Bolehkah mak menerima kenyataan ini di samping mak menghadapi rencam-rencam lain lebih rumit dan memerlukan perhatian yang penuh. Saya tak perlulah menambahkan lagi episod beban yang harus ditanggungnya. Cukuplah, beberapa tika kemudian saya pasti mak memang luas pengalaman dan garam juga sudah terlebih-lebih di makan. Sangat memahami takdir hidup itu harus dihadapi bukan diratapi. Salah sungguh kenyataan ini. Saya yang baru tersedar hakikat itu sedang emak jauh dulu dari saya.

 

Pulang sekali sekala dengan wajah yang ceria sudah memadai buat mak. Ceria yang bukan dibuat-buat. Tak perlulah lari dari ketajaman naluri ibu tentang apa-apa sekali pun. Kelmarin dulu, saat mereka semua menyangka saya tersenyum girang dalam bahagia yang dinanti setiap insani, mak juga yang memerhati raut wajah saya sebenarnya berubah-ubah warna. Kata mak rona wajah saya sebentar merah, sebentar putih dan sebentar hitam. Mak.. sungguh saya mohon maaf tidak terhingga.

 

Nampaknya saya sedang menyingkap semula kisah peribadi yang telah menjadi silam itu, sedangkan saya sebenarnya sedang bermangu mencongak-congak adakah keputusan saya untuk bertemu dengan seorang teman saya yang akan melangsungkan perkahwinannya di musim lebaran ini wajar. Bertemu dengannya tentu sekali wajar. Bercerita tentang kegembiraan hidupnya kini tentu sekali wajar. Saya sedang menimbangkan sesuatu yang saya sendiri tidak pasti kenapa perlu saya menimbangkannya lagi. Alasannya baik-baik sahaja. Ya, adakah saya sedang memberi alas atau adakah itu hakikatnya. Alasnya adalah pertemuan saya dengan dia. Hakikatnya adalah pada pertemuan kedua dengan temannya juga. Saya tidak betah berbasi basi. Alas dan hakikat ini yang saya sedang timbangkan. Mempersoalkan kepada benak saya sendiri. Kegembiraan ini, kekuatan ini tidak wajar luntur walau apapun jawapannya. Kerana masa itu tidak pernah berhenti lalunya. Saya bukan lagi warga remaja. Saya adalah warga yang akan ditanyai di akhirat kelak ”Di manakah masa mudamu?”. Aduh, takut sekali. Dengan segala keterbatasan yang ada, saya masih lagi bernafas. Saya tidak boleh berlari dengan jawaban ”saya tiada masa muda. Maaf, saya sudah mati di usia remaja”. Oh, saya sedang berlawak bodoh.

 

Sudahlah. Saya tidak harus mengabui diri sendiri dengan alas dan hakikat yang saya reka untuk justifikasi hati dan perasaan saya yang mula bahagia. Kebahagiaan ini yang saya takuti. Takut-takut hanya khayalan dunia ciptaan saya sendiri sedang saya selalu dan sering sangat tersalah memandang hidup dan memberi erti kepadanya.

 

Ubatnya adalah pertemuan ini. Emak agak risau. Bimbang saya tidak mampu menghadapi hakikat andai dan jika kesan pertemuan yang saya cari-cari ini. Emak, sungguh, persahabatan ini berat maknanya. Kelukaan apa yang bisa diberi oleh seorang sahabat. Kelukaan kepada hati saya yang mula memesong. Aduh emak! bersungguh-sungguh mengingatkan saya tentang siapa saya kini.

 

Suatu tika, saya merasa saya telah melakukan terbaik untuk dunia saya dan mengakui kecintaan saya pada dunia yang saya ada. Dunia kecil yang membawa kaki saya melangkah panjang saban hari atas nama mencari rezeki dan dunia kecil saya yang dipanggil peribadi. Kedua-duanya telah tiada. Bukan bermaksud hidup saya sudah musnah dan gagal. Sekali imbas pada lahiriahnya, ya. Ada juga sekelumit dua terdetik di hati tapi saya buang jauh. Saya begitu butuh rahmat tuhan dan tidak sekali-kali meraguinya. Saya memberikan maksud kepada ketiadaan kedua-duanya sebagai suatu kemestian iaitu telah tiba kepada penghujungnya dan di setiap hujung, di situlah bermulanya langkah pertama. Saya menganggap takdir ini sebagai peluang untuk saya membina hidup baru, sepenuhnya baru. Kenapa harus saya memulakan langkah pertama saya dengan ratapan. Kata pendakwah dan pakar-pakar motivasi yang sering keluar dikaca televisyen, pabila bangun pagi kita hendaklah senyum lebih kurang 5 saat. InsyaAllah, hari kita akan gembira. Senyum yang datang dari hati gundah adalah kelat. Sungguh saya senyum dari hati yang setenang tali air di hadapan rumah emak dan abah. Senyum saya tidak segirang mana tapi saya kira senyuman saya tidak kelat.

 

Saya yang dengan naif lagi sedikit cengeng mengaku akan kecintaan saya pada dunia. Astaghfirullah, ampunkan saya Ya Rabb. Bagaimana saya bisa begitu lancang dengan pengakuan kecintaan ini sedang bagi yang sedar akan hakikat hidup ini, dunia hanyalah bangkai. Aduh! Saya tahu tapi tidak sedar. Saya kira dunia saya amat sempit untuk saya cintai lalu saya mencari apa itu cinta, apa itu bahagia, apa itu ikhlas dan apa itu mata hati. Saya percaya jawaban pada apa yang saya akui itu ada pada persoalan-persoalan tadi tetapi saya mula agak gugah dalam pencarian saya. Di gedung buku kelmarin, saya bertemu dengan tulisan-tulisan yang menarik tentang persoalan ”Siapakah saya?”

 

”Siapakah saya?” Buku itu saya tilik dan bacai dengan kemas dari halamannya yang pertama hingga akhir. Pengembaraan seorang puteri dalam mencari pengertian diri. Saya tidak menemui jawapannya kerana puteri tersebut tidak menemui jawapan yang dikehendaki. Tapi dia tidak pulang dengan tangan yang kosong saya kira. Ya.. perkiraan dan perhitungan peribadi tentang apa yang cuba disampaikan oleh penulisnya. Saya kira penulisnya telah berjaya membawa saya kepada kekeliruannya sendiri tentang siapa dirinya kerana saya mula keliru tentang diri saya sendiri.

 

Saya bukan siapa-siapa. Klise. Saya adalah saya. Klise juga. Saya hanya manusia yang seringkali melakukan salah dan silap dan saya selalu juga berharap peluang kedua, ketiga keempat dan seterusnya. Klise lagi. Saya manusia gembira. Juga klise. Saya manusia biasa-biasa. Klise.

 

Saya kira persoalan ini bukan persoalan yang tepat dalam mencari sebuah kehidupan. ”Siapa saya?” hanya menyingkap kisah-kisah lama tanpa henti lalu memerangkap diri kepada belenggu persoalan lepas yang sepatutnya saya ambil pelajaran darinya. Saya hanya ingin kehidupan yang baik. Sekali lagi, baik itu sungguh relatif sifatnya. Tidak berpaksi pada ketepatan atau kepastian ya atau tidak. Cukuplah baik pada pengertian saya dan semoga tuhan mengampuni dosa-dosa saya atas segala kekurangan. Saya adalah saya. Tak perlulah diterangkan lagi saya ini memang manusia kok! (kata tambahan dalam bahasa jawa seperti ’lah’ oleh masyarakat melayu). Akhirnya saya memilih juga kata-kata klise itu. Klise, yang lain juga telah, sedang dan akan pada bila-bila masa menggunakannya. Alasan pada penggunaannya masing-masing sahaja yang beri. Senyum sumbing saya lekatkan dibibir. Senyum sendiri-sendiri dengan hujah sendiri pada diri.

 

Teman saya menyatakan sesuatu yang tidak dapat saya responkan dengan baik lantaran saya begitu gembira untuk memulakan hidup baru yang sepenuhnya baru dari segala segi. ”Oh! Jadi yang lama-lama seperti aku ini kau hendak buanglah…” gumamnya. Aduh! Cukuplah engkau bercanda teman. Pastinya candaan juga yang saya ungkapkan kembali.

 

Saya teruskan dengan candaan dan gurauan. Mengharap makna-makna disebalik gurauan itu tidak diambil enteng lalu dilupakan begitu sahaja. Tapi sebaliknya saya juga dibalas dengan gurauan-gurauan yang serupa. Adakah dia memberi makna pada gurauannya atau saya yang tersalah memberi erti sekali lagi dalam banyaknya segi kehidupan yang saya lalui.

 

            Alas dan hakikat. Mengapa perlu saya bimbangkan akan alas dan hakikat. Saya hanya terlalu bimbang. Mencari paksi agar tidak menjadi kesusahan orang lain dan tidak pula dipandang serong pada yang menghadapi kesan kepada alas dan hakikat yang sedang saya pertimbangkan. Sungguh, saya kira fikiran saya sudah masak.

 

            Teman … teman. Jika tidak kerana keterbatasan langkah pastinya saya sudah berada di hadapan pintu rumahmu.

 

            Seorang teman lain mengingatkan tidak salah untuk saya menuju kepada pelangi petang saya. Memang mustahil untuk digapai, jauh sekali untuk dimiliki. Kita semua sudah cukup dewasa untuk berbicara tentang kewarasan. Cuma metaforanya, saya harus memastikan adakah pelangi petang saya akan menjadi sinar suria yang memberikan saya kehidupan seterusnya hingga nafas saya berpisah dari jasad.

 

            Emak meningkah. Bukan begitu. Terima kasih teman dan maafkan saya emak. Saya punya alasan saya sendiri. Demi diri sendiri dan hati sendiri. Jika ia harus tamat di sini, saya sudah cukup bahagia. Jika ianya satu titik permulaan, saya tentunya wanita paling bahagia. Jangan salah sangka. Saya tenang sekali. Mana-mana arah jalan hidup yang akan terjadi tentunya yang terbaik untuk saya.

 

            Kekecewaan tidak akan sekali-kali bertapak di hati ini jika pelangi petang itu berlalu tanpa tebaran cahaya. Kerana kegembiraan yang dibawanya tetap berbekas di hati sama seperti bekas secebis kenangan comel pernah kami lalui dulu. Comel? Ya, saya kira amat comel. Memandangkan kepada mentahnya kehidupan diwaktu dulu itu. Kenangan yang menjadi ungkitan dan gurauan kami berdua. Manis belaka.

 

Kenangan manis itu ubat. Bukannya ubat pahit bagi calar balarnya luka lahiriah. Tapi ubat manis. Benarlah kata mak, hidup peribadi saya yang telah menjadi silam itu penuh dengan calar balarnya. Kenangan apa yang boleh saya sandarkan untuk memulihkan kembali sebuah bahtera. Lantas saya mendoakan kebahagiaannya di sini. Dari kejauhan ini saya berharap dia bertemu kebahagiaannya sama seperti saya berharap moga-moga pelangi petang ini adalah cahaya yang menemani saya sepanjang umur saya. Itu lebih baik, pesan mak.

 

            Cukuplah dengan perenggan-perenggan di atas. Fikiran saya sudah masak. Untuk kesekian kalinya, saya perlukan kepastian sebelum semuanya bermula. Permulaan hidup saya kali ini biarlah dengan baik. Sejujurnya saya dengan semua pihak terutama orang tua saya sendiri. Saya tidak mahu membuat keputusan hidup yang terburu-buru dan salah lagi.

 

Saya insaf kini. Bahawa detik sekejap nanti dan esok benar-benar tidak bisa kita tebak. Rancangan kita bisa beraral sama ada melintang atau membujur adalah atas pengetahuan-NYA atas izin-NYA.

 

            Congak dan hitung saya mudah. Jika beraral dan terhenti, pastinya hikmah ada di mana-mana. Keluasan rahmat tuhan tidak sekali-kali saya ragui. Jika diizinkan, sungguh segala puji-puji adalah bagi-MU.

 

4.35pm Isnin 3.8.09

 

 

Di balik mentari senja yang menyinar girang itu

Saya berdiri menghadapi terik yang tidak menyakitkan itu

Melainkan silau yang mengerenyitkan mata saya yang saya degilkan untuk tetap berhadapan dengannya

 

Sungguh, sebentar lagi malam

Saya tidak takut lagi akan kegelapannya

Cahaya saya ada di mana-mana

Menerangi segenap sudut hati

Hati saya yang milik-NYA

 

14.8.2009

TAHAP KEBENGONGAN AKU DAH MASUK TAHAP BAPAK GABAN.. tlg lerr

Bila taip kat cni selalu sangat dah jadik macam diari plak.. AKu baru baca chedet.blog jap tadi.. recent post die.. “KAKI DALAM KASUT”… politik politik.. aku minat tapi malas nak nulis kat cni.. aku suka tajuk tue.. cuma aku rasa yang dia nak sampaikan ialah “cubalah ko sarung kaki dalam kasut orang lain…” aka kat dalam kasut orang2 melayu.

ok.. jom kita trnslate perbahasa inggeris lain kepada melayu (sedirect boleh):

1. Kawan yang diperlukan ialah kawan yang memerlukan
2. kaedah ibu jari
3. jgn nilai buku dari kulitnya ATAU jgn hukum buku dari alasnyer
4. seperti bapa, seperti anak ATAU suka bapa, suka anaknyer (hahahahaha)
5. jadilah diri sendiri ATAU jadilah tebuan sendiri (hahahahaa)
6. kebenaran ada diluar sana
7. kecantikan adalah di bawah kulit ( beauty is under the skin.. ) huhu…
8. sejernih kristal ATAU macam jelas macam kristal (PELEKnyerr)
9. TIADA TAMBAHAN TIADA KESAKITAN ( bapak tak bes.. tiada kejayaan tanpa keperitan)
10. lelaki betol ditempat salah

cukup lerr kot..

Sayang, ikhlas dan rindu

Saya pernah bertanya pada dia “Apakah sayang?”
Kau sanggup melakukan itu, rela kau melakukan itu, demi aku.
Itukan sayang, sayang
Dia berlalu pergi, hilang ditelan waktu dan saya berjumpa Dia II.
saya bertanya pada Dia II
“apakah itu ikhlas?”
Kita tak tahu, hanya tuhan yang tahu
Saya berkata kepadanya saya tak mampu untuk
menjadi semut hitam di atas batu yang gelap
di malam yang gelap
saya meminta Dia II memahami saya
Dia berkata “suka hati awak nak anggap apa dengan yang saya akan beri”
Dia berlalu pergi tanpa sepatah kata tanpa mampu memandang mata
Saya bertemu selain Dia dan Dia II
saya tak pasti apa-apa
tapi di antara mereka itu saya ada bertanya kepada seseorang
“ikhlas berkawan dengan ikhlas berkasih itu apa?”
seseorang itu berkata saya hanya terlalu bimbang
cinta datang dan pergi, kawan juga begitu…
saya ingin merindui Dia, tapi dia hanya lukisan hitam yang tiada berbayang
saya tiada rasa
saya ingin merindui Dia II, tapi saya cuma mampu mengingati beberapa peristiwa percaya berbanding banyaknya prasangka dan kecewa
saya ingin bercakap tentang rindu dengan yang lain, mereka bukan siapa-saipa, saya juga bukan siapa-siapa
saya kembali menyusuri jalan kembali bertemu bonda dan ayahanda
senyuman yang melingkari bibir begitu bening sekali
saya berkata kepada bonda saya tiada apa untuk disesalkan
bonda kata… ”tidak mengapa, rautmu menceritakan segala-galanya”
saya gembira bersama bonda, ayahanda, adinda-adinda
sahabat, kenalan… tanpa Dia atau Dia II
Tapi saya masih berdoa.. ayat yang 36 hati segala surah yang mengandungi hikmah-hikmah saya bersandar.
Ampunkan saya Ya Rabb kerana saya masih membutuhkan Dia…
Doa saya, biarlah yang menjagai, yang membimbing saya kerana-MU hingga akhir nafas saya
Wani
21.0709 Selasa 3.26pm

Macam mana nak jawab lau ada budak kecik tanya “mak.. setan tu aperr?”

Setan, kawan yang tak mesra. hampeh lagi tak guna (again copy n paste.. huhu-meylya.wordpress.com)

Dalam sebuah kisah orang-orang suci diceritakan. Suatu hari, seorang sufi sedang tertidur di sebuah bangunan tua yang akan roboh. Saking nyenyaknya tidur sang sufi, hingga Ashar hampir ‘habis’, dia masih mendengkur di bawah bangunan.

Saat itulah datang seorang tua. Dia membangunkan tidur orang suci ini. Sang sufi yang sudah terasah batinnya itu terpana tatkala membuka mata. Ia tahu, yang membangunkannya adalah setan yang menjelma sebagai orang tua. Sang sufi pun menegur. “Aku tahu kamu setan, tapi mengapa membangunkan aku untuk menunaikan salat Ashar?”

Setan ini menjawab tenang. “Sudah tunaikan dulu salatmu. Habis salat, pertanyaanmu akan aku jawab. Cepat sekarang ambil wudhu dan tunaikan perintah Tuhanmu.”

Sang sufi beranjak meninggalkan bangunan tua itu. Dia ambli wudhu, dan menunaikan salat ashar di pohon rindang yang ada di samping bangunan itu. Saat salat, bangunan tua itu roboh. Sang sufi yang khusyuk tidak mendengar itu. Habis salat, sang sufi yang penasaran mendekati setan itu. Dia kembali bertanya, motivasi apa yang membuat setan itu membangunkan dan menyuruhnya sembahyang.

Apa jawab setan itu? “Lihat bangunan yang kamu tiduri tadi. Bangunan itu roboh. Kalau kamu masih ada disitu, kamu akan mati tertimpa reruntuhan. Janji Allah, surga bagimu. Itu artinya, tertutup sudah pintu untuk menggodamu. Aku tidak rela kamu masuk surga.”

“Kamu kubangunkan salat, agar kamu terhindar dari kematian itu. Sekarang kamu masih hidup. Aku masih punya kesempatan untuk menggodamu agar masuk neraka.”

—————– itulah setan 

« Previous PageNext Page »