kalau boleh ku berikan bulan .. andai bisa ku tatangkan lautan penuh.. untukmu..

saya sudah mula tidak betah tanpa kehadiran kamu walau sesaat dalam hayunan langkah saya yang tertatih-tatih di dunia baru yang saya titi kini .. kamu yang menghadirkan diri tanpa jasad yang bisa saya tatap, kamu yang mengucapkan bait-bait indah yang membuat hati saya bungkam dalam senyum dan tegar terus menahan kebungkaman itu agar bisa larut dalam lewat mimpi dan segarnya pagi yang menggigit segala sendi.. sungguh saya tahu hari saya akan dipenuhi tawa dan canda yang membuai keegoaan sukma agar terus dibuai mimpi dan bergantikan kepada kepasrahan dan kebergantungan saya kepada-Nya.

Sungguh, jika kamu adalah yang dipesankan kepada saya demi kepasrahan dan kebergantungan yang ingin saya punyai dalam sanubari yang sedang saya pohon untuk memiliknya dan bertatih dalam mennyemai kecintaan dunia yang membawa kebahagiaan akhirati… saya mula percaya semula akan keagungan cinta, akan keabadiannya dan kehebatannya.  Bagaimana dengan cinta kita andai engkau memilih perpisahan.. itu yang kamu tanyai saya. sungguh andai perpisahan itu yang terbaik maka saya akan mengenang cinta ini, kasih sayang ini dan kebahagiaan ini dalam kerinduan yang tak mungkin saya buang. jika kamu meminta saya untuk tidak mensia-saiakan segala pengorbanan, kesediaan yang sedang kamu pertaruhkan, sedang kamu mencongak akan apa yang berada di hadapan… apa bisa saya berjanji melainkan dengan izin-Nya dan saya membutuh sekali agar semua ini bukan hanya untuk menjadi kesia-siaan…

Sungguh, apa bisa kamu memberi kepastian andai bukan dengan izin-Nya. Pohonan saya pada-Nya tidak pernah putus sayang…

saya mohon maaf untuk berkata ini demi kesekian kalinya…Sungguh andai perpisahan adalah takdir yang tidak bisa saya larikan diri darinya.. kesakitan  apa yang bisa kamu berikan kepada saya.. kerana kepasrahan dan kebergantungan saya adalah pada-NYA.

No comments yet. Be the first.

Leave a Reply